<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Wonogiri Sukses &#187; Kejawen</title>
	<atom:link href="http://suarawonogiri.web.id/http:/suarawonogiri.web.id/category/postname/kejawen/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suarawonogiri.web.id</link>
	<description>Menyajikan informasi dari berbagai sumber</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Apr 2010 14:17:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mengungkap Misteri Keampuhan keris</title>
		<link>http://suarawonogiri.web.id/kejawen/mengungkap-misteri-keampuhan-keris</link>
		<comments>http://suarawonogiri.web.id/kejawen/mengungkap-misteri-keampuhan-keris#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 06:54:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kejawen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarawonogiri.web.id/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Senjata yang paling diagung-agungkan pada zaman nenek moyang kita (Bangsa Indonesia ) adalah sebuah benda yang terbuat dari logam dan dibagian ujungnya dibentuk runcing yang disebut “keris”. Mereka berkeyakinan bahwa sebilah keris memiliki kekuatan dan kelebikan yang bahkan dapat melebihi kemampuan manusia biasa. Sehingga sebilah keris dapat dijadikan sebagai barang yang di istimewakan yang suatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" title="image of senikerajinan.wordpress.com" src="http://senikerajinan.files.wordpress.com/2008/09/keris-jawa.jpg" alt="" width="103" height="159" />Senjata yang paling diagung-agungkan pada zaman nenek moyang kita (Bangsa Indonesia ) adalah sebuah benda yang terbuat dari logam dan dibagian ujungnya dibentuk runcing yang disebut “keris”. Mereka berkeyakinan bahwa sebilah keris memiliki kekuatan dan kelebikan yang bahkan dapat melebihi kemampuan manusia biasa. Sehingga sebilah keris dapat dijadikan sebagai barang yang di istimewakan yang suatu saat dapat dipergunakan untuk memenuhi keinginan dari pemilik benda pusaka tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun sebagian orang di zaman sekarang sudah pudar akan keyakinan seperti itu karena dianggapnya benda pusaka seperti keris adalah jenis senjata yang sudah ketinggalan zaman yang tidak relevan lagi di zaman yang serba canggih ini. Karena sudah banyak diketemukan adanya peralatan-peralatan senjata yang lebih modern, seperti senjata a<span id="more-98"></span>pi, peluru kendali, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari hasil penelitian ternyata pusaka berbentuk keris ini dapat dianggap memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Bagaimana tidak pusaka keris adalah sebuah senjata yang terbuat dari logam biasa (belum mengalami perpaduan dengan bahan yang lain) tetapi memiliki kekuatan yang sangat luar biasa dari bahan aslinya. Hal ini ternyata terletak pada proses pembuatannya. Dan ini yang akan menjawab mengapa biasanya untuk dapat menciptakan sebuah keris yang sangat ampuh dibutuhkan adanya waktu yang sangat lama bahkan dalam waktu tahunan. Seperti yang terjadi pada kisah Keris Empu Gandring milik dari Ken Arok dari Tumapel yaitu dimasa sebelum kerajaan Singosari.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat Ken Arok menjadi abdi di Tumapel awal mulanya tanpa sengaja melihat barang rahasia milik Ken Dedes, istri Tunggul Ametung (seorang akuwu/penguasa di Tumapel). Dari barang rahasia Ken Dedes nampak adanya sinar yang menyala.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari kejadian itu oleh Ken Arok diceritakan oleh seorang brahmana yang waskita bernama Dhang Hyang Lohgawe. Menurut Brahmana tersebut, wanita dengan tanda-tanda seperti itu adalah Nareswari. Artinya wanita seperti itu adalah ratu dari semua wanita. Kalau ada seseorang yang memperisterinya baik dari golongan bawah akan menjadi penguasa yang memiliki jabatan yang tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar penjelasan sang brahmana seperti ini Ken Arok semakin bulat tekadnya untuk dapat memperistri Ken Dedes walau apapun risikonya, termasuk dengan cara membunuh Tunggul Ametung. Maka berangkatlah Ken Arok menuju tempat tinggal Empu Gandring, seorang empu pembuat keris yang sangat termashur. Dengan keris buatan Empu Gandring ini Ken Arok bermaksud membunuh Tunggul Ametung.</p>
<p style="text-align: justify;">Ki Empu, tolong bikinkanlah saya sebuah keris yang ampuh. Saya harapkan bisa selesai dalam waktu lima bulan. Harap diperhatikan, Kyai, agar keris itu dapat selesai. Empu Gandring menjawab, Kalau kau menghendaki yang baik, seharusnya dalam satu tahun. Kalau dalam lima bulan belumlah cukup.<br />
Ken Arok berkata lagi, Pengukiran keris itu terserah saja bagaimana bentuk serta coraknya. Saya tak peduli masalah janji, pokoknya dalam lima bulan harus selesai.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah lima bulan, maka Ken Arok pun teringat akan janjinya, yakni akan pesanan keris tersebut kepada Empu Gandring. Empu Gandring yang pada waktu itu sedang mengikir keris. Ken Arok perlahan bicara,Kyai, sudah selesaikah keris pesanan saya itu? Empu Gandring pun menjawab pula dengan halus, Dhuh, Kaki. Kerismu itu justru yang sedang kukikir ini. Ketika mendengar jawaban tersebut, Ken Arok menjadi tak senang hati dan bersikap kurang sopan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ken Arok melihat kerisnya yang sedang dikikir (diperhalus). Keris diberikan oleh Empu Gandring, diterima oleh Ken Arok dan diamat-amati. Serentak sadar bahwa kerisnya belum selesai, maka Arok berkata marah. Ini keris belum rampung! Bukankah saya sudah berkali-kali berpesan. Tak ada guna-nya saya berkata kalau begini kenyataannya, Kyai. Terlalu sekali kau ini, Kyai. Masakan mengikir pun sampai lima bulan masih juga belum selesai. Benar-benar kau tak mengacuhkan pesanku, kau Empu Gandring! Ken Arok pun mengamuk membabi buta.</p>
<p style="text-align: justify;">Empu Gandring ditusuknya dengan keris bikinan sang Empu itu sendiri. Segera sang Empu Gandring pingsan. Ken Arok keterlanjuran menurutkan api amarah. Keris disabetkan di lumpang tempat kikiran besi.<br />
Lumpang yang terbuat dari batu itu terbelah menjadi dua. Setelah itu keris disabetkan lagi ke arah paron (alas untuk menempa besi). Paron pun pecah berkepingan. Setelah itu terdengariah suara Empu Gandring yang menyumpah serapahi, Ken Arok, besok kau sendiri pun akan mati oleh keris itu juga. Anak dan cucu-cucumu, tujuh orang raja akan meninggal pula dengan senjata<br />
yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mengucapkan kalimat tersebut, maka Empu Gandring pun segera meninggal. Ken Arok sangat menyesal dengan kematian Empu Gandring.<br />
Tuah keris Empu Gandring ternyata terbukti sakti. Buktinya, keris ini berhasil membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok sendiri, dan keturunannya. Sehingga tepat seperti sumpah Empu Gandring bahwa kerisnya membunuh tujuh orang raja.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah dari cerita itu ternyata benar bahwa dalam proses pembuatan sebuah pusaka berbentuk keris akan memakan waktu yang tidak sedikit. Ini adalah suatu cara bagaimana dapat merubah dari bahan yang memiliki sifat fisis dan mekanis yang biasa-biasa saja menjadi istimewa. Dari hasil penelitian itu ternyata dalam proses pembuatan sebuah keris yaitu dengan cara sebuah logam dipanasi sampai merah membara dan dipukul sampai rata, setelah itu logam dipanasi lagi sampai merah membara lalu dilipat menjadi dua bagian secara memanjang dan dipukul secara merata sampai permukaannya datar lagi. Setelah itu diulangi lagi untuk memanasi logam sampai merah membara dan di lakukan pemukulan sampai rata lagi, setelah itu logam dipanasi lagi sampai merah dan dilipat menjadi dua bagian dan dilakukan pemukulan sampai rata lagi. Dan proses ini dilakukan sampai tak terhingga jumlah lipatannya tergantung seberapa kukuatan yang ingin diharapkan dari sebuah benda pusaka tadi. Kalau menginginkan sebuah benda pusaka yang memiliki kekuatan yang sangat istimewa tentunya akan memakan waktu yang sangat lama karena harus melakukan lipatan-lipatan pada logam dalam jumlah yang sangat banyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau dibandingkan dengan teknologi sekarang ternyata teknologi yang kita pelajari membenarkan adanya peningkatan sifat fisis dan mekanis seperti itu, yaitu dapat dilakukan dengan melipat-lipat lembaran logam sebanyak-banyaknya. Didalam ilmu komposit dijelaskan bahwa bahan yang berbentuk lembaran-lembaran tipis yang digabung menjadi satu akan memiliki sifat fisis dan mekanis yang lebih tinggi dari pada bahan utuh atau pejal. Hal ini disebabkan pada setiap lembaran-lembaran tipis memiliki kemampuan tersendiri untuk menahan beban tarik dan beban tekan di sisi yang bersebelahan. Kalau jumlah lembarannya sangat banyak maka akan diperoleh gaya tarik dan tekan pada bahan yang banyak pula, artinya bahan semakin kuat. Sedangkan kalau dibandingkan dengan bahan pejal, bahan pejal hanya memiliki satu gaya tarik dan satu gaya tekan saja. Karena perbedaannya sangat besar sekali maka suatu hal yang tidak mustahil kalau benda pusaka berbentuk keris ini benar-benar memiliki kekuatan yang lebih dari logam biasa.  (<a title="sumber" href="http://bloggeramin.wordpress.com/2008/11/05/mengungkap-misteri-keampuhan-senjata-keris-dari-segi-teknologi-2/" target="_blank">bloggeramin.wordpress.com</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarawonogiri.web.id/kejawen/mengungkap-misteri-keampuhan-keris/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senantiasa Diselimuti Dunia Mistik</title>
		<link>http://suarawonogiri.web.id/kejawen/senantiasa-diselimuti-dunia-mistik</link>
		<comments>http://suarawonogiri.web.id/kejawen/senantiasa-diselimuti-dunia-mistik#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 18:04:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kejawen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarawonogiri.web.id/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kehidupannya, Soeharto tak lepas dari nilai-nilai filosofi Jawa. Ia memang terlahir dari lingkup tradisi Jawa yang sangat kental. Laku prihatin berupa puasa dan semedi biasa ia lakoni. Berkaitan itu masyarakat, khususnya di Jawa, selalu mengaitkan mantan penguasa Orde Baru tersebut dengan dunia mistik.
ADALAH sang ibu, Sukirah yang berperan besar menorehkan ajaran kejawen. Konon, setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" title="pak harto" src="http://img100.imageshack.us/img100/7073/be060467rs8.jpg" alt="" width="257" height="170" />Dalam kehidupannya, Soeharto tak lepas dari nilai-nilai filosofi Jawa. Ia memang terlahir dari lingkup tradisi Jawa yang sangat kental. Laku prihatin berupa puasa dan semedi biasa ia lakoni. Berkaitan itu masyarakat, khususnya di Jawa, selalu mengaitkan mantan penguasa Orde Baru tersebut dengan dunia mistik.</p>
<p style="text-align: justify;">ADALAH sang ibu, Sukirah yang berperan besar menorehkan ajaran kejawen. Konon, setelah melahirkan Soeharto, Sukirah sempat menghilang selama 40 hari lamanya. Tak ada yang tahu ke mana dia pergi. Setelah pulang ia mengaku bertapa untuk mas<span id="more-45"></span>a depan anaknya yang baru dilahirkannya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat menjadi presiden, filosofi itu tidak ia tanggalkan. Ia menjalankan kepemimpinannya berdasar tradisi Jawa. Salah satu ciri utama filosofi Jawa yang benar-benar dihayati Soeharto adalah penghormatan terhadap harmoni dan keselarasan hubungan antara manusia dan alam semesta. Dalam menjaga harmonisasi dengan alam, banyak sekali upacara yang dipertahankan oleh Soeharto.</p>
<p style="text-align: justify;">Soeharto percaya dengan mempraktikkan upacara-upacara itu, ia akan memperoleh kebijaksanaan dan harmoni. Ia begitu konsisten menyelenggarakan selamatan, upacara tradisional, baik pada upacara kelahiran, ulang tahun, pernikahan, maupun acara kematian. Itu semua dilakukan agar terjadi keseimbangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan hanya dalam kehidupan pribadi dan keluarga Soeharto melaksanakan upacara-upacara kejawen. Dalam menjalankan roda pemerintahan yang dipimpinnya selama tiga dekade, ia juga menerapkannya. Untuk kepentingan dan momen apapun upacara itu dilaksanakan, terdapat satu prinsip utama yang diyakini Soeharto, yaitu harmonisasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam konteks kekuasaan, istilah harmonisasi yang dipahami Soeharto sebenarnya tidak berkonotasi pada keselarasan dan kebijaksanaan, melainkan lebih bernuansa pada tindakan-tindakan mempertahankan kekuasaan meskipun harus menempuh jalan kekerasan. Harmonisasi dalam kosa kata pemerintahan Orde Baru juga bermakna penertiban, pendisiplinan, pencekalan dan pembredelan, penculikan, bahkan pembunuhan. Itulah mengapa, upacara-upacara kejawen yang dilakukan Soeharto bagi kelangsungan kekuasaannya jauh dari nuansa keluhuran dan keadiluhungan budaya, tapi lebih bersifat magis-metafisis-pragmatis.</p>
<p style="text-align: justify;">Soeharto sendiri mendapatkan pendalaman pada dunia mistis dari Kiai Daryatmo, seorang guru agama dan mistik Jawa. Dari kiai ini, Soeharto muda mendapat pengetahuan tentang pengobatan, tentang laku, dan tentang semedi. Dalam bukunya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, nama Daryatmo disebut-sebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Soeharto mengakui Daryatmo banyak memberi inspirasi dalam perjalanan hidupnya. Bahkan sampai menjadi presiden. Mantan Menteri Penerangan Mashuri bahkan pernah menuturkan, setiap bulan sedikitnya satu kali, Soeharto datang menemui Daryatmo untuk minta petunjuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Ritual mistis yang dijalani Soeharto adalah bersemedi atau bertapa di tempat-tempat keramat atau wingit.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber yang pernah mendampingi pria berjuluk The Smiling General itu melakukan laku mistis mengungkapkan, Gunung Lawu jadi tempat favorit Soeharto. Gunung Lawu memang merupakan salah satu pusat kekuatan mistik di Jawa</p>
<p style="text-align: justify;">Selain Lawu, tempat favorit Soeharto bersemedi adalah tempat keramat di Gunung Srandil, Dieng, danau Pacitan, dan sebuah gua di Cilacap. Paranormal Permadi, Adjikosoemo, dan sejarawan MT Arifin membenarkan tempat-tempat itu merupakan tempat yang sering dipakai semedi Soeharto.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak hanya bertapa di tempat keramat, Soeharto sering melakukan ritual berendam diri dalam air atau dalam kepercayaan Jawa disebut tapa kungkum. Tapa kungkum itu dilakukan Soeharto sejak muda bahkan ketika sudah menjabat presiden.</p>
<p style="text-align: justify;">Tempat-tempat yang sering digunakan kungkum Soeharto adalah Petilasan Panembahan Senopati di Dlepih, Tirtomoyo, Wonogiri. Pelaku kebatinan yang cukup akrab dengan almarhum Ny Tien Soeharto menuturkan, tempat tersebut sering dikunjungi Soeharto sejak muda hingga menjelang menjabat presiden.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan di saat menjadi Pangdam Diponegoro, tempat kungkum Soeharto adalah di Kaligarang, Semarang. Di tempat Soeharto dulu sering kungkum itu, sekarang dibangun sebuah monumen yang disebut Tugu Soeharto.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menjadi presiden, Soeharto masih sering menjalani ritual itu. Lokasi yang dipilih adalah sebuah tempat di Bogor. Tempat itu bukan lagi lokasi terbuka karena sudah didirikan sebuah bangunan rumah. Rumah ini dimiliki Almarhum Pak Sudjono Humardani, salah satu penasehat spiritual Soeharto.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapa kungkum dipercaya tidak hanya berefek secara mistis. Namun juga membangun kekuatan fisik agar lebih kuat dan tahan terhadap serangan penyakit. Seseorang yang rajin melakoninya akan menjadi lebih sehat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia akan memiliki kesehatan organ pernapasan yang tangguh serta tidak mudah lelah meskipun sudah dalam kondisi tua.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain laku mistis, putra Sukirah dan Kertorejo itu juga senang mengoleksi pusaka untuk menambah kekuatannya. Salah satu pusaka yang dipinjam Soeharto untuk menambah kekuatannya adalah pusaka andalan Kraton Solo.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan tidak hanya itu, Soeharto juga dipercayai memiliki &#8220;pendamping&#8221;. Pendamping ini adalah salah satu Raja perempuan alam bawah laut. Dia adalah kakak seperguruan Nyai Roro Kidul.</p>
<p style="text-align: justify;">Kentalnya nuansa magis dalam kehidupan Soeharto tak urung membuat orang selalu mereka-reka hal-hal mistis dengan apa yang terjadi pada diri Soeharto. Saat akan lengser dari kedudukannya sebagai presiden banyak penanda alam yang sebenarnya telah muncul.</p>
<p style="text-align: justify;">Hilangnya konde sang istri Siti Hartinah Soeharto sesaat setelah meninggal adalah pertanda lepasnya kekuasaan yang digenggam. Kehebatan Soeharto, kata banyak paranormal, terletak pada konde Bu Tien. Selama ini, Bu Tien yang menjadi perantara turunnya wangsit-wangsit penting, karena dia yang secara genetik memiliki garis keturunan dari raja-raja Jawa. Saat konde itu hilang, secara mistik Soeharto tak lagi memiliki legitimasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanda-tanda berakhirnya kekuasaan Soeharto kian nyata saat palu yang diketukkan Harmoko (Ketua MPR waktu itu) untuk mengesahkan pengangkatan kembali Soeharto sebagai presiden Indonesia periode 1998-2003 pada Sidang Umum MPR 1998 patah menjadi dua. Palu yang patah, begitu tafsir banyak paranormal, adalah simbol bakal berakhirnya kekuasaan Soeharto. Dan terbukti, pada 21 Mei 1998, Soeharto dipaksa melepaskan kekuasaannya, meskipun pendapat yang mengatakan bahwa lengser keprabonnya Soeharto disebabkan oleh konde Bu Tien yang hilang dan palu yang patah belum tentu benar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kini saat mantan Presiden Soeharto berada di rumah sakit lagi, hal-hal mistis pun kembali menyelubunginya. Salah satunya, sakit Soeharto dikaitkan dengan longsornya Gunung Lawu.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang paranormal Prof Limbad (Mbah Lim) menduga umur Soeharto tidak akan lama lagi. Menurut Mbah Lim, tanda-tanda alam memperlihatkan tahun ini akan menjadi tahun terakhir bagi pria kelahiran Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921 tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanda alam yang dimaksud Mbah Lim, salah satunya adalah adanya longsor di Tawangmangu, Karanganyar, di lereng Gunung Lawu, pada 26 Desember lalu yang mengakibatkan puluhan orang tewas. Meluapnya Bengawan Solo juga direka-reka sebagai penanda serupa.</p>
<p style="text-align: justify;">Benar tidaknya, hanya Tuhan yang tahu. Tapi dalam Babad Tanah Jawi tercatat, tiga abad lalu ketika Sultan Agung mangkat gunung bergemuruh.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hari setelah Mao Zedong meninggal, Negeri Cina diguncang gempa hebat. Beberapa saat sehabis Nehru wafat, Sungai Gangga konon meluap.<br />
[ sumber : suara merdeka ]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarawonogiri.web.id/kejawen/senantiasa-diselimuti-dunia-mistik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Upacara Jamasan Pusaka Mangkunegaran di Selogiri</title>
		<link>http://suarawonogiri.web.id/kejawen/upacara-jamasan-pusaka-mangkunegaran-di-selogiri</link>
		<comments>http://suarawonogiri.web.id/kejawen/upacara-jamasan-pusaka-mangkunegaran-di-selogiri#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 17:49:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kejawen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarawonogiri.web.id/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Asal Usul
Di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, ada suatu tradisi yang berupa upacara jamasan atau siraman pusaka Mangkunegaran. Dalam upacara jamasan pusaka Mangkunegaran tersebut yang dijamas atau dimandikan adalah dua buah keris dan sebuah tombak peninggalan Raden Mas Said atau Mangkunegara I yang ditempatkan di Kecamatan Selogiri. Keris-keris tersebut bernama Kyai Koriwelang dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" title="monumen_selogiri" src="http://i54.photobucket.com/albums/g97/ariherdi/Monumenselogiri.gif" alt="http://i54.photobucket.com/albums/g97/ariherdi/Monumenselogiri.gif" width="192" height="182" />Asal Usul<br />
Di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, ada suatu tradisi yang berupa upacara jamasan atau siraman pusaka Mangkunegaran. Dalam upacara jamasan pusaka Mangkunegaran tersebut yang dijamas atau dimandikan adalah dua buah keris dan sebuah tombak peninggalan Raden Mas Said atau Mangkunegara I yang ditempatkan di Kecamatan Selogiri. Keris-keris tersebut bernama Kyai Koriwelang dan Kyai Jaladara, sedangkan tombaknya diberi nama Kyai Totok.</p>
<p style="text-align: justify;">Kisah dibalik keberadaan benda-benda pusaka tersebut di Selogiri, berawal ketika Raden Mas Said berusaha mempertahankan daerahnya dari penjajah Belanda yang mulai masuk ke daerah sekitar Gunung<span id="more-42"></span> Wijil. Dalam peperangan mempertahankan daerahnya itu, Raden Mas Said yang menggunakan senjata-senjata pusaka tersebut dan dibantu oleh rakyat Selogiri berhasil mengusir pasukan Belanda.</p>
<p>Setelah berhasil menghalau pasukan Belanda, Raden Mas Said kembali lagi ke Mangkunegaran. Keris dan tombak pusakanya pun turut pula dibawa pulang. Baru pada tahun 1935, saat Mangkunegara VII berkuasa, keris dan tombak pusaka Mangkunegara I tersebut diserahkan kepada masyarakat dan kerabatnya yang berada di Kecamatan Selogiri, sebagai ungkapan terima kasih atas jasa-jasa yang telah diberikan oleh masyarakat dan kaum kerabatnya yang ada di Selogiri. Sebagai catatan, waktu mengadakan perlawanan di Gunung Wijil, Raden Mas Said sempat mengawini gadis setempat yang bernama Rara Rubiah, salah seorang puteri dari Kasan Kamani. Setelah menjadi isteri Raden Mas Said, Rara Rubiah mengganti namanya menjadi Raden Ayu Patah Aji. Jadi, kaum kerabat di sini adalah orang-orang yang berasal dari keturunan maupun kerabat Raden Ayu Patah Aji.</p>
<p>Setelah menerima ketiga pusaka tadi, masyarakat Selogiri kemudian membuat sebuah bangunan berbentuk tugu berukuran 7&#215;7 meter dan tinggi 6 meter. Pada bagian puncak tugu dibuat semacam kotak yang cukup untuk menyimpan ketiga pusaka itu. Dan, untuk menutupnya dibuatkan semacam lempengan yang terbuat dari batu1. Selain itu, setiap satu tahun sekali mereka juga mengadakan upacara jamasan atau pemandian bagi pusaka-pusaka yang dianggap keramat tersebut.</p>
<p>Maksud dan tujuan penyelenggaraan upacara jamasan pusaka Mangkunegaran adalah untuk mendapatkan keselamatan, perlindungan dan ketenteraman. Bagi sebagian masyarakat Selogiri, benda-benda pusaka tersebut dianggap mempunyai kekuatan gaib yang akan mendatangkan berkah apabila dirawat dengan cara dibersihkan atau dimandikan. Apabila tidak dirawat, mereka percaya “isi” yang ada di dalam benda-benda keramat tersebut akan pudar atau malah hilang sama sekali dan hanya berfungsi sebagai senjata biasa.</p>
<p>Selain itu, fungsi lain dari jamasan adalah agar senjata-senjata pusaka tersebut tidak lekas rapuh dan dapat bertahan lama. Pusaka yang sudah cukup tua apabila tidak dirawat dengan semestinya, maka kemungkian besar akan menjadi berkarat dan akhirnya rusak. Untuk itu, perlu dilakukan perawatan secara berkala agar apabila terdapat kerusakan dapat diketahui secara dini.</p>
<p>Waktu, Tempat, Pemimpin dan Pihak-pihak yang Telibat dalam Upacara<br />
Sebagaimana upacara pada umumnya, upacara jamasan pusaka juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui dalam upacara ini adalah sebagai berikut: (1) tahap pengambilan pusaka yang disimpan di puncak tugu; (2) tahap tirakatan; (3) tahap arak-arakan; dan (4) tahap pemandian atau jamasan pusaka. Sebagai catatan, dahulu penyelenggaraan upacara jamasan pusaka dilakukan setiap satu tahun sekali pada hari Jumat pertama di bulan Suro. Namun saat ini, setelah dikemas untuk kepentingan kepariwisataan, upacara jamasan dilakukan pada hari libur dengan alasan untuk menarik wisatawan baik asing maupun domestik.</p>
<p>Tempat pelaksanaan upacara jamasan pusaka bergantung dari tahapan-tahapan yang harus dilalui. Untuk prosesi pengambilan senjata pusaka Mangkunegara I dilakukan di sebuah tugu yang terletak di sebelah barat kantor Kecamatan Selogiri. Untuk prosesi tirakatan diadakan di pendopo Kecamatan Selogiri. Untuk prosesi arak-arakan atau kirab diawali dari pendopo Kecamatan Selogiri, kemudian ke kantor Kabupaten Wonogiri dan dilanjutkan lagi ke Kodim Wonogiri. Sedangkan, untuk prosesi pencucian atau jamasan pusaka Mangkunegara I dilakukan di Waduk Gadjah Mungkur. Sebagai catatan, dahulu tempat pelaksanaan jamasan dilakukan di pendopo Kecamatan Selogiri. Namun, pada saat bupati Wonogori dijabat oleh Soemarsono, upacara ini dikemas menjadi suatu aset atau agenda pariwisata yang pelaksanaannya dipindahkan ke Waduk Gadjah Mungkur. Tujuannya adalah untuk mendukung program pemerintah dalam meningkatkan pariwisata.</p>
<p>Pemimpin upacara juga bergantung pada kegiatan atau tahap yang dilakukan dalam upacara jamasan pusaka Mangkunegaran. Pada tahap pengambilan pusaka, yang bertindak sebagai pemimpin upacara adalah salah seorang yang dituakan dari kerabat Mangkunegaran. Kemudian, yang bertindak sebagai pemimpin upacara saat tirakatan dan kirab menuju Kabupaten dan Kodim adalah Camat Selogiri. Sedangkan, yang bertindak sebagai pemimpin upacara jamasan di Waduk Gadjah Mungkur adalah salah seorang abdi dalem Mangkunegaran yang sudah berpengalaman dalam melaksanakan upacara jamasan pusaka.</p>
<p>Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan upacara adalah: (1) beberapa orang kerabat Mangkunegara yang datang langsung dari Surakarta maupun yang bertempat tinggal di Selogiri; (2) para aparat Kecamatan Selogiri maupun Kabupaten Wonogiri; (3) beberapa kelompok kesenian yang ada di wilayah Wonogiri; dan (4) warga masyarakat lainnya yang membantu menyiapkan perlengkapan upacara maupun menyaksikan jalannya upacara.</p>
<p>Perlengkapan Upacara<br />
Peralatan dan perlengkapan yang perlu dipersiapkan dalam upacara jamasan pusaka Mangkunegaran adalah: (1) jenang abang; (2) jenang putih; (3) jenang baro-baro; (4) kembang setaman yang terdiri dari mawar, kenanga dan kantil; (5) kemenyan; (6) nasi uduk; (7) ingkung ayam; (8) nasi golong; (9) gecok pecel itik; (10) pisang; (11) nasi putih; (12) sirih; (13) rempeyek; (14) tempe goreng yang dibuat kecil-kecil; dan (15) haban/warangan (bahan untuk membersihkan pusaka)</p>
<p>Jalannya Upacara<br />
Upacara jamasan pusaka diawali sekitar pukul 16.00 WIB dengan mengadakan prosesi pengambilan pusaka yang ditempatkan di puncak sebuah tugu yang terletak di sebelah barat kantor Kecamatan Selogiri. Prosesi pengambilan benda pusaka ini hanya dilakukan oleh beberapa orang yang masih mempunyai hubungan darah dengan Mangkunegara. Sebelum mengambil keris dan tombak pusaka, di ambang pintu masuk tugu terlebih dahulu diadakan pembakaran kemenyan dan peletakan sesajen yang berupa: gecok pecel itik, jenang putih, jenang abang, jenang boro-boro, pisang, nasi putih, suruh, rempeyek, tinto, dan tempe goreng berbentuk kecil-kecil.</p>
<p>Selesai membakar kemenyan dan menaruh sesajen, empat atau lima kerabat Mangkunegara mulai menaiki tangga besi yang dipersiapkan khusus oleh pemerintah Kecamatan Selogiri, mengambil pusaka-pusaka tersebut di puncak tugu. Sewaktu prosesi pengambilan pusaka ini sedang berlangsung, masyarakat Selogiri yang bukan kerabat Mangkunegaran hanya melihat dan menanti dari bawah sambil berdoa memohon keselamatan kepada Tuhan.</p>
<p>Setelah pusaka milik Mangkunegara I berhasil diturunkan, mereka membawanya menuju pendopo Kecamatan Selogiri. Pusaka-pusaka tersebut kemudian ditaruh di sebuah tempat khusus yang terletak di bagian tenggara pendopo. Setelah itu, mereka beramah-tamah sejenak dengan camat dan muspika Kecamatan Selogiri. Selesai beramah-tamah, para kerabat Mangkunegara itu pulang lagi ke Surakarta.</p>
<p>Sekitar pukul 20.00 WIB para kerabat Mangkunegara itu kembali lagi ke Selogiri untuk mengikuti acara tirakatan di pendopo Kecamatan Selogiri. Selain para kerabat Mangkunegara, yang hadir dalam acara tirakatan itu diantaranya adalah para pamong desa, tokoh masyarakat, tamu undangan dari beberapa instansi di Kabupaten Wonogiri, dan warga masyarakat Selogiri.</p>
<p>Acara tirakatan ini dibuka dengan sambutan dari Camat Selogiri yang berisi tentang maksud dan tujuan diadakannya upacara jamasan pusaka Mangkunegara. Selesai acara sambutan dari Pak Camat, para tamu undangan yang sebelumnya sudah ditunjuk oleh panitia mulai mengalunkan tembang-tembang macapat. Pelantunan tembang-tembang macapat tersebut berlangsung sampai acara tirakatan selesai sekitar pukul 10.00 WIB. Setelah selesai tirakatan, sebagian tamu undangan akan pulang ke rumahnya masing-masing dan sebagian lagi tetap berada di pendopo sambil menjaga senjata pusaka.<br />
[ sumber : http://uun-halimah.blogspot.com ]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarawonogiri.web.id/kejawen/upacara-jamasan-pusaka-mangkunegaran-di-selogiri/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
